JAGA LISAN DI UJUNG JARI: MEMBANGUN GENERASI CERDAS DIGITAL BERAKHLAK ISLAMI DI SDIT AT-TAUBAH BATAM

Etika berinternet merupakan aturan dan norma yang mengatur bagaimana seseoran berprilaku di dunia maya agar tetap menghargai diri sendiri dan orang lain. Bahkan pada generasi sekarang banyak menyalahgunakan internet sebagai tempat meluapkan perasaan ketikan yang tidak pantas.

Menurut Thurlow, netiket adalah etika berinternet sekaligus perilaku sosial yang berlaku di media daring (Nasrullah, 2016).

Era digital adalah suatu hal yang sangat penting pada zaman sekarang, dimana hampir seluruh bidang dalam tatanan kehidupan sudah dibantu dengan teknologi digital salah satunya komunikasi. sama halnya komunikasi di dunia nyata, kita juga perlu menjaga cara kita berbicara di dunia digital. Kata-kata yang kita tulis bisa membuat orang senang, tetapi juga bisa menyakiti hati mereka.

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pedoman tentang bagaimana seorang Muslim menjaga lisannya. Dalam konteks modern, lisan itu tidak hanya berbentuk ucapan, tetapi juga tulisan di layar. Sebagai sekolah Islam terpadu, SDIT At-Taubah Batam memiliki tanggung jawab tidak hanya mencerdaskan peserta didik secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak mulia dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam penggunaan internet.

Beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam berkomunikasi dalam era digital:

  1. Saling menggunakan Bahasa yang sopan

Dalam komunikasi di dunia digital, kita perlu menjaga tetap menjaga kesopanan dan menghormati orang lain. Hindari Bahasa yang kasar bersifat menyinggung dan menyerang.

  1. Menghindari ejekan

Jangan menulis sesuatu yang menyakiti hari orang lain.

  1. Memberikan kata-kata positif

Membuat suatu yang bagus dan bisa memotivasi, memberikan semangat dengan kata-kata psoitif.

  1. Menjaga privasi

Dalam berkomunikasi digital, kita wajib menghormati privasi orang lain, dan hindari membagi hal pribadi orang lain tanpa izin.

  1. Tidak menyebarkan hoax atau berita palsu

mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Menghindari menyebarkan informasi hoax atau bohong yang dapat merugikan orang lain.

Menurut laporan UNICEF, anak dan remaja yang mengalami perundungan daring dapat mengalami dampak psikologis serius seperti stres, cemas, hingga menurunnya rasa percaya diri. Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan etika digital sejak dini

Islam telah mengajarkan prinsip komunikasi yang santun dan bertanggung jawab jauh sebelum hadirnya teknologi digital. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Dalam dunia digital, tulisan adalah representasi lisan yang direkam dan disebarkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka… dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta janganlah menggunjing satu sama lain.”

Ayat ini menjadi pedoman penting dalam bermedia sosial. Di internet, sering kali seseorang mudah berprasangka, menyebarkan kabar tanpa memastikan kebenarannya, atau menuliskan komentar yang menyakiti orang lain. Padahal setiap tulisan adalah cerminan akhlak. Allah SWT melarang ejekan, prasangka, dan ghibah. Nilai-nilai ini sangat penting dalam menjaga komunikasi di media sosial.

Kesimpulan

Menjaga adab berbicara di dunia digital adalah bagian dari keimanan. Dunia maya bukan ruang tanpa batas dan tanpa pertanggungjawaban. Setiap kata yang kita tulis mencerminkan akhlak, kepribadian, dan kualitas iman kita.

Keberhasilan pendidikan etika berinternet tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama antara sekolah dan keluarga. Di SDIT At-Taubah Batam, pendidikan karakter islami menjadi fondasi utama.

Melalui kolaborasi antara orang tua, guru, dan siswa, SDIT At-Taubah Batam berkomitmen untuk membangun generasi cerdas digital yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Anak hebat bukan hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menjaga adab dan integritas di dunia nyata maupun dunia maya.

 

 

Tersedia di:

  1. https://quran.kemenag.go.id (Diakses 14 Februari 2026)
  2. https://www.unicef.org/end-violence/how-to-stop-cyberbullying (Diakses 14 Februari 2026)
  3. https://www.unicef.org/indonesia (Diakses 14 Februari 2026)
  4. Nasrullah, R. (2016). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait